BIOGRAFI MINOR
Ilustrasi (bukan mbah sarip sebenarnya)
Kisah ini adalah NYATA, aku menulisnya karena sosok Mbah Surip yang fenomenal seakan mengingatkanku pada sosok mbah Sarip...si "Juragan Kaos Kaki" yg fenomenal juga. Klo mbah Surip fenomenalnya sampai tingkat nasional, sedangkan mbah Sarip cuma lingkup Kediri saja.
Ada beberapa persamaan dari keduanya. Yaitu di usia senja sama-sama terbuang ke kota lain, hidup tanpa isteri dan sama2 tua, nikah sekali.
Hidup mbah Sarip sudah tak bertujuan. Aku mengenal mbah Sarip sekitar tahun 2006. Ciri khas dari mbah Sarip sama sekali berbeda dg mbah Surip, klo mbah Sarip jauh dari penampilan nyentrik, peci hitam dan kaca mata gak pernah lepas, rambut hanya tersisa yg putih aja. Badan gendut - tambun. Mbah Sarip funny jg terkadang. Asal mbah Surip Mojokerto, klo mbah Sarip Surabaya, berdekatan juga.
Mbah Sarip adalah seorang bisnisman, usia di atas 60 an masih menjalankan bisnisnya "jualan kaos kaki" di pasar2 di Kediri-Tulungagung. Dia kelola bisnis sudah lama, termasuk sukses klo bole aku simpulkan. Fisik yg makin menurun serta daya pikir yg mulai pikun membuat bisnis kokohnya lambat laun mengalami penurunan omzet. Dari buku tabungan yg mbah Sarip tunjukkan ke aku, aku kagum juga dg hasil tabungannya selama ini, Rp 60 jt.
Jika orang2 tanya ttg keluarganya yg di Surabaya, dia cuma bilang, "sudah tidak mau kembali ke keluarganya!" Ironis sekali. Aku cuma berpikir, seandainya dia almarhum, duit sebanyak itu bisa jadi masalah nantinya. Karena dia tinggal dikontrakan, dan dikelilingi orang2 wong cilik yg oportunis. Klo aku tanya warisan diberikan sapa mbah, "ya orang yg meladeni aku di masa hidupku!" jawabnya enteng."
TIGA JUTA....upah nyariin isteri mbah Sarip. Mungkin karena sering digodain ma orang2, mbah Sarip mengutarakan isi hatinya pada kami, "Cariin isteri buatku, nanti aku kasih 3 juta kamu!!" katanya sembari tersenyum." Alangkah beruntungnya wanita yg mau jd isterinya. Perlu diketahui bahwa dilingkungan sekitar, masyarakatnya 70% golongan kelas bawah, jd isterinya sebentar dapat warisan puluhan juta..ha..ha.. Tapi dasar mbah Sarip kegenitan dan karena merasa punya byk uang, dia menginginkan wanita yg agak muda...setidaknya belom menopouse. "Ada-ada aja mbah2...!! Tua-tua keladi....!! Emang masih mampu ??" kataku sambil cengar-cengir.
AWAL KEHANCURAN MBAH SARIP
Entah kapan tepatnya dia mulai menyukai judi, seingatku pas ada piala dunia. Dari sekedar iseng sampai jutaan dia taruhan ma orang2 disekitarnya. Anehnya dia gak tau perihal judi bola.
Mbah Sarip ga pernah mau dengar sindiran2 dariku. Seiring Piala Dunia 2006, tiap partai yang berpeluang menang mnrt prediksinya, dia selalu pasang taruhan. Mungkin, sampai akhir Piala Dunia hanya 90% dia kalah taruhannya. Bisa dibayangkan dah berapa juta dia buang2 dengan sia2 tabungan masa depannya. Kecanduan taruhan bola tidak berhenti di Piala Dunia saja, Liga2 Eropa juga diikutinya. Sayangnya dia tidak menyadari bahwa orang yg selama ini menjadi perantaranya adalah penghianat berdarah dingin. Seorang tukang becak yg akhirnya meninggalkan profesinya karena selama taruhan menang. Kemenangan yg diperoleh dari membohongi mbah Sarip. Akal bulus si tukang becak ini sangat keji. Aku yg terus berusaha mengingatkan mbah Sarip, masih aja dianggap angin lalu. Omonganku sama sekali gak dianggap. Saat itu aku dan orang2 yg kasihan ma mbah Sarip memprediksi jika terus-terusan begitu gak sampai 2 th mbah Sarip bisa jadi gelandangan.
Karena omongan2 kami tidak digubris akhirnya kami diam dan gak pernah melarang lagi. Kami biarkan saja dia. Kalau pas kalah taruhan kami cuma menggodanya biar makin sadar. Menurut pengamatanku dia ikut2 taruhan karena fisiknya sudah tidak memungkinkan untuk bekerja, harusnya dia duduk manis dirumah bersama cucu2nya. Kenyataannya dia diusia 60 th lebih harus mondar-mandir keluar kota untuk kirim barang dan nagih utang barang. HArapan dia jika ikut taruhan bola menang dia gak susah2 lagi cari duit.
Sedikit demi sedikit uangnya terkuras habis. Dia acap kali bicara "bisa2 aku jadi pengemis...!" Kurang lebih hampir 2 th uang 60 jt itu lenyap. Semua barang2 dikontrakannya dijual, termasuk sepeda listriknya. Bahkan dia ga sanggup lagi untuk bayar kontrakan. DIa mulai kebingungan. ORang2 yg selama dia kaya berada didekatnya tidak peduli lagi. Keluhan dia cuma kami dengarkan saja. Dan saat terakhir dia punya duit sekitar 300 rb, masih jg dia pasang taruhan.
"Kalau ini kalah, besok mati aku!" kata mbah Sarip dengan wajah memelas.
Hemmmmmm....mudah2an aja menang, klo mbah Sarip kalah pasti repot deh ntar. Dua hari kemudian aku baru muncul di tempat nongkrong. Kudengar mbah Sarip kalah lagi, sepeda ontelnya sudah laku dijual buat makan....tragis banget..!!! DASAR orang tua gak bisa dijadikan tauladan. Aku jengkel, marah ngelihat hal itu. Tapi mbah Sarip bukan sapa2ku, kenapa musti aku yang sewot....ach biarin aja lah, bukan urusanku.....!
PERCOBAAN BUNUH DIRI
Malam itu, orang2 tak melihat mbah Sarip, dia sudah pindah kontrakan, agak jauh dr tempat nongkrong. Mereka pada was-was jangan2 mbah Sarip putus asa dan nekad mengakhiri hidupnya. Terakhir mbah Sarip mengemukakan keinginannya untuk pulang ke Surabaya, tapi tidak punya uang lagi. Dan kebetulan waktu itu kami ingin beri uang bt mbah Sarip pulang ke Surabaya. Tapi setelah dikasih uang ternyata dia masih di Kediri. Semua kecewa..........
Terkadang mbah Sarip bicara konyol, ingin mati cepat. Mati.....mati....mati !!! Beberapa dari kami malah menyarankan utk ke rel kereta api, cepat dan pasti mati. Tapi mbah Sarip ingin mati utuh jasadnya. Terus aku sarankan untuk terjun dr jembatan Kali Brantas, tapi takut ketinggian. Saranku itu sebetulnya cuma gurauan saja, tidak bermaksud bener2 menyuruh mbah Sarip utk bunuh diri.
Entah malam itu tanggal berapa, saat itu aku sedang service server di warnet deket tempat nongkrong. Aku dengar dari orang2 bahwa mbah Sarip tadi mondar-mandir spt orang linglung. Tadi ada yang lihat lewat gang. "Gak mungkin dia bunuh diri?' pikirku.
Setengah jam kemudian, pas aku fokus servis server, tau2 mbah Sarip muncul dengan basah kuyup, topi dan kacamatanya ga ada.
"Mbah, ngapain sampeyan ?" tanyaku cemas.
"Aku barusan nyebur kali Brantas, aku terseret arus dipinggiran kali, kacamata, sandal dan peciku jatuh! Pengen mati aja kog susah!" aku liat matanya berkaca-kaca.
Aku liat sorot mata yg tidak seperti biasanya. Hampa...tetesan air matanya tak mampu disembunyikan. Di satu sisi aku jg merasakan kekecewaan atas sikapnya yg gak pernah mau dengerin nasihatku. Melihatnya spt ini aku gak tega, sempat air mataku merembes keluar, tp segera aku tahan. Aku ingin membantu dia, tp dia terlalu banyak permintaan dan rewel banget. Aku ingin menampungnya di rmh ku yg kosong, tp takut repot krn dia seorang yg pernah KAYA, pasti blm bisa menerima kenyataan, dan ntar klo tau2 dia bunuh diri di rumahku, aku pasti repot.
MBAH SARIP JADI GELANDANGAN
Beberapa hari kemudian kami tdk melihat mbah Sarip lagi, terdengar kabar klo pagi dia bawa tas plastik hitam kecil jalan ke utara ato naik angkot. Seperti jadi pengemis kata orang2. Mungkin saja. Kami bertiga sepakat untuk membawa mbah Sarip ke Sby, supaya ada yg merawat.
Besok paginya mbah Sarip ada di sebelah warnet, aku liat di mengeluarkan duit recehan byk banget, dan aku gak berani menyapanya. Dia sibuk menghitung. Memang bener, mbah Sarip memang telah jadi pengemis untuk menyambung hidupnya. Dia sempat mengeluh karena untuk mandi saja dia kesulitan, padahal di bayar. Tidurnya di lapak2 alun2. Tragis dan ironis. Dia sudah tidak diterima lagi di mana2.
Setelah negosiasi dan memberikan pengertian ke mbah Sarip, seorang teman yg dr awal selalu disakiti jg, akhirnya sanggup mengantarkan ke Sby. Mbah Sarip hanya samar2 ingat rumah saudaranya di Sby. Temenku menurunkannya di tempat dia mau. Sekarang mbah Sarip masih ada atau tidak kami pun tidak mengetahuinya. Apakah dia hidup bersama saudaranya, kami juga tidak tau. Semoga mbah Sarip selalu dalam lindunganNya....Amin.
KESIMPULAN
Betapa ironisnya kehidupan mbah Sarip, dlm sekejap dia jadi gelandangan dan pengemis. Mbah Sarip hidup bergelimang harta tapi tidak punya tujuan hidup. Motivasi hidupnya tidak ada. Dia hanya kebingungan karena merasa mau apa2 umurnya jg sudah tua. Kematian selalu menghantuinya. Tidak punya isteri, anak, sapa lagi yg mau dijadikan motivasi hidupnya. Selain itu sikapnya yg keras kepala dan kesombongannya membuatnya dia salah jalan. JALAN PINTAS SELALU DIANGGAPNYA PANTAS...
Menurut analisaku, mbah Sarip sengaja menghabiskan hartanya, karena dia selalu tidak iklas klo mati mendadak tp meninggalkan harta bendanya. Dengan menghabiskan harta bendanya dan kemudian menjadi pengemis, dia ikhlas mati. Aku pernah menyarankan dia ke Panti Jompo biar di rawat, dan klo mati hartanya bisa buat amal, tp itu bukan keinginannya.
Teman...sebuah pembelajaran hidup. Bergelimang harta tanpa punya keluarga, di usia senja sangat menyiksa. Kesepian, kesendirian akan semakin menghantui sejalan dengan ajal yg pasti suatu saat akan menjemput. JALAN PINTAS SELALU DIANGGAPNYA PANTAS...sebuah kata yg aku dapat dr sebuah bak truk yg sedang lewat di depanku... jika diresapi sungguh sangat bermakna.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar